Berbicara mengenai sejarah Islam di Indonesia, nama walisongo tidak bisa ditinggalkan. Para tokoh penyebar Islam di tanah Jawa tersebut dikenal dengan dakwahnya yang bijaksana, warisan budaya, pendidikan, dan nilai-nilai sosialnya.
Hingga kini, jejak pemikiran dan metode dakwah Walisongo masih hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia. Menjadi bukti bahwa warisan mereka tetap relevan dan berpengaruh sepanjang zaman. Apa saja warisan yang dimaksud? Berikut penjelasannya.
Berbagai Warisan Walisongo dalam Sejarah Islam

Warisan Walisongo dalam sejarah Islam ini tidak hanya berupa hal yang berwujud, tetapi juga sistem yang bahkan masih berlaku hingga saat ini.
1. Tradisi Selamatan Empat Bulan
Tradisi ini dilakukan dengan membaca surat-surat kitab Al-Quran ketika bayi berusia 4 bulan. Harapannya, bayi dapat lahir dengan kondisi yang baik dan nantinya tumbuh menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bertaqwa.
2. Konsep Pesantren dan Bahasa oleh Sunan Ampel
Beliau tidak hanya mengembangkan tetapi juga mewariskan konsep pesantren. Tidak hanya itu, Sunan Ampel juga menggunakan istilah setempat untuk mendekatkan Islam. Tujuannya agar beliau diterima lebih mudah oleh masyarakat.
Salah satu pendekatan yang masih digunakan hingga kini adalah kata santri, sembahyang, dan langgar.
Cara beliau berdakwah sendiri dikenal vebagai falsafah “Moh Limo” atau tidak melakukan lima hal yang tercela.
3. Tradisi Doa Tahlilan
Umumnya tahlilan dilakukan setiap malam Jumat. Tradisi ini mengumpulkan banyak orang untuk berdzikir dan membaca surat kitab Al-Quran.
Selain tujuan ibadah, tahlilan juga menjadi kesempatan untuk berkumpul dengan banyak orang.
4. Permainan Anak dari Sunan Giri
Sunan Giri memiliki cara unik untuk mengajarkan islam. Beliau menggunakan permainan anak-anak seperti Cublak-Cublak Suweng, Lir-ilir, Jamuran, dan Jelungan.
Selain itu, beliau juga menyebarkan agama Islam di area timur Nusantara dengan menggunakan wayang beserta gending atau lagu dengan instrumental Jawa.
5. Tradisi Kirim doa Untuk Mereka yang Sudah Wafat
Tepatnya adalah tradisi 7 harian, 40 harian, dan juga 100 harian. Tradisi tersebut bertujuan untuk mengirimkan doa bagi orang yang telah wafat.
Seperti tahlilan, orang-orang akan datang dan berkumpul. Lalu mereka membaca doa, surat, dan berdzikir.
Dulu Walisongo melakukan tradisi ini untuk mengikuti kebiasaan masyarakat setempat yang umumnya berkumpul saat ada orang yang wafat. Walisongo kemudian menambahkan nuansa Islam.
6. Tembang Tombo Ati oleh Sunan Bonang
Dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa Sunan Bonang memang menggunakan karya tulis dan seni sebagai media berdakwah. Salah satu karya yang paling terkenal dan masih dinyanyikan hingga saat ini adalah “Tombo Ati”.
Karya tersebut terinspirasi dari “Syiir Abu Nawas”. Tembang Tombo Ati berisi mengenai inti ajaran Sunan Bonang. Ajaran tersebut ada di dalam Suluk Wuragil.
Selain itu, Sunan Bonang memasukkan bonang dan rabab yang digunakan sebagai pelengkap untuk gamelan Jawa dengan nuansa Islam,.
7. Masjid Menara Kudus, Perpaduan Islam dan Hindu
Mengapa perpaduan antara Islam dan Hindu? Karena Masjid Menara Kudus memiliki arsitektur unik. Di satu sisi masjid menonjolkan fungsinya sebagai tempat ibadah. Sementara di sisi lain, ada candi dengan gaya Hindu.
Candi tersebut berfungsi sebagai menara masjid. Bangunan yang didirikan oleh Sunan Kudus ini jadi warisan sejarah Islam sekaligus lambang perjuangan Walisongo dalam penyebaran agama Islam.
Masih banyak peninggalan Walisongo yang begitu bermakna dan masih ada hingga saat ini. Peninggalan sejarah Islam tersebut membuka mata kita soal perjuangan Walisongo dalam penyebaran agama Islam.







Comments