Pernah buka Shopee cuma buat cek harga, lalu berakhir checkout karena timer tinggal dua menit? Pola itu sering bukan soal “kurang niat hemat”, tapi soal FoMO.
Fear of Missing Out adalah rasa takut ketinggalan tren, diskon, atau pengalaman yang sedang ramai. Di Indonesia, dorongan ini terasa dekat karena media sosial, marketplace, live shopping, dan grup chat promo hadir di layar yang sama.
Akibatnya, belanja sering berubah jadi respons cepat, bukan keputusan tenang. Di titik ini, menarik dilihat bagaimana FoMO mendorong konsumsi, siapa yang paling rentan, dan kenapa efeknya bisa sampai ke dompet.
Apa yang Terjadi Saat Fear of Missing Out Mendorong Konsumsi?

Saat FoMO muncul, logika belanja bergeser. Pertanyaan “apa saya butuh?” kalah oleh “bagaimana kalau saya telat?”.
Itu sebabnya orang sering membeli bukan karena fungsi barangnya paling masuk akal, tetapi karena takut tertinggal dari teman, influencer, atau arus tren. Produk viral, promo terbatas, dan label “hampir habis” menekan orang untuk cepat bergerak. Keputusan jadi lebih emosional, impulsif, dan sering tidak direncanakan.
Di Indonesia, pola ini terlihat jelas di e-commerce. Sejumlah studi pada konsumen Shopee menunjukkan FoMO punya pengaruh nyata terhadap impulse buying. Dalam studi di Bandung pada pembeli The Originote, koefisien regresi FoMO terhadap pembelian impulsif tercatat 0,779. Angka itu memberi gambaran sederhana, makin kuat rasa takut ketinggalan, makin besar dorongan untuk membeli.
Dari kebutuhan ke keinginan simbolis
FoMO mengubah barang menjadi tanda sosial. Skincare, boneka koleksi seperti Labubu, sepatu, atau tumbler tidak dibeli semata karena kegunaan. Barang itu dibeli karena punya arti, “saya update”, “saya ikut omongan orang”, atau “saya bagian dari kelompok ini”.
Mekanisnya sederhana. Barang yang ramai dibahas terasa lebih penting daripada barang yang diam-diam berguna. Padahal fungsi keduanya bisa mirip.
Di sini konsumsi bergerak ke ranah simbolis. Orang membeli untuk menjaga citra, ikut percakapan, atau menghindari rasa tertinggal. Kalau semua teman kantor membahas satu produk viral, tidak ikut membeli kadang terasa seperti tidak ikut hadir dalam obrolan.
Mengapa rasa takut ketinggalan terasa begitu kuat
FoMO kuat karena ia menekan dua sisi sekaligus, emosi dan perbandingan sosial. Kita terus melihat versi terbaik hidup orang lain, unboxing yang rapi, review yang meyakinkan, dan komentar yang antusias. Lalu otak menyimpulkan, “kalau saya tidak ikut sekarang, saya kehilangan sesuatu.”
Notifikasi memperparah efek itu. Ada pesan promo, ada live yang sedang tayang, ada push notification soal flash sale, lalu ada teman yang kirim link diskon. Rangsangan datang berlapis.
Saat rasa takut ketinggalan lebih kuat daripada pertanyaan “apa saya perlu?”, keputusan belanja hampir pasti jadi emosional.
FoMO juga jarang bekerja sendirian. Dalam riset lain di e-commerce, promosi penjualan dan metode pembayaran ikut memperbesar efeknya. Gabungan faktor ini menjelaskan 68,6% variasi perilaku pembelian impulsif. Artinya jelas, rasa cemas ketinggalan mudah berubah jadi klik beli saat platform memberi dorongan yang tepat.
Platform digital membuat FoMO makin mudah memicu belanja
Media sosial dan marketplace membuat FoMO bekerja lebih cepat. Dulu orang menunggu iklan atau rekomendasi teman. Sekarang, pemicunya muncul setiap kali scroll.
Menurut data SIRCLO 2025, video commerce makin kuat sebagai jalur menemukan produk, riset, sampai keputusan membeli. Waktu belanja Gen Z juga bergeser. Puncaknya bukan lagi malam saja, tetapi juga pukul 12.00 saat makan siang dan 19.00 setelah pulang kerja. Artinya, momen rentan belanja kini menyelip di sela rutinitas.
Beberapa pemicu di platform terlihat sederhana, tapi efeknya besar.
| Pemicu | Contoh di platform | Efek ke keputusan |
| Hitung mundur | Flash sale di Shopee, live TikTok Shop | Membuat orang merasa harus cepat |
| Label stok | “Tersisa 3” atau “hampir habis” | Barang terasa lebih bernilai |
| Gratis ongkir | Voucher dengan syarat waktu tertentu | Mendorong tambah keranjang |
| Konten video | Unboxing, review, live demo | Produk terasa akrab dan aman dibeli |
Gabungan pemicu itu menghapus jeda berpikir. Barang yang tadinya biasa saja mendadak terasa mendesak.
Peran influencer, teman, dan konten viral
Influencer dan afiliator membuat produk terasa dekat. Mereka tidak hanya menunjukkan barang, tetapi juga memberi narasi pemakaian, hasil, dan reaksi. Buat penonton, itu seperti meminjam pengalaman orang lain.
Teman dan saudara punya efek yang sama kuatnya. Kadang malah lebih kuat. Kalau rekomendasi datang dari orang yang dikenal, resistensi menurun. Produk terasa “sudah diuji”, meski sebenarnya belum tentu cocok.
Konten viral menambah lapisan lain. Saat satu produk muncul berulang di TikTok, Instagram, X, dan marketplace, otak membacanya sebagai sinyal penting. Efek electronic word of mouth juga terlihat di penelitian. Ulasan positif cenderung menaikkan intensitas FoMO, apalagi untuk produk yang sedang tren.
Kelangkaan dan urgensi yang sengaja dibangun
Platform paham satu hal, orang takut kehilangan kesempatan. Karena itu, kelangkaan sering dibentuk sebagai desain pengalaman belanja.
Flash sale adalah contoh paling jelas. Riset pada Gen Z di Shopee menunjukkan flash sale dan gratis ongkir mendorong pembelian impulsif lewat FoMO, dengan p-value 0,000. Bahasa statistiknya teknis, tapi maknanya sederhana, promosi seperti ini efektif karena membuat orang merasa waktu mereka habis.
Festival “double day” juga bekerja dengan logika yang sama. Menurut SIRCLO 2025, transaksi pada momen ini naik 71% secara tahunan. Orang tidak hanya mengejar harga murah. Mereka mengejar momen yang terasa tidak boleh dilewatkan.
Masalahnya, pesan urgensi sering menggeser fokus. Alih-alih menilai kualitas, orang sibuk mengejar waktu. Alih-alih membandingkan harga, orang takut kehabisan. Di situ FoMO berubah dari rasa cemas kecil menjadi tindakan konsumsi.
Siapa yang paling mudah terdorong oleh FoMO?
Tidak semua orang punya kerentanan yang sama. Kelompok yang paling sering terdorong FoMO biasanya adalah Gen Z, mahasiswa, dan pengguna media sosial aktif.
Ada alasan yang cukup jelas. Mereka paling sering terpapar tren, paling cepat melihat apa yang sedang viral, dan paling sering membandingkan diri dengan lingkaran sosialnya. Dalam konteks Indonesia, kebiasaan belanja online yang sudah menyatu dengan keseharian membuat pemicunya makin sering muncul.
Data juga mendukung arah itu. Sekitar 60% Gen Z di Indonesia melakukan pembelian impulsif setidaknya sekali sebulan. Itu bukan angka kecil. Itu berarti perilaku ini sudah masuk pola rutin, bukan kejadian sesekali.
Gen-Z dan mahasiswa yang hidup dekat dengan tren
Gen Z tumbuh bersama feed, story, live, dan notifikasi. Perubahan tren kecil pun terasa relevan. Produk yang viral pagi ini bisa terasa basi minggu depan.
Mahasiswa punya tekanan tambahan. Lingkungan pertemanan sangat aktif, percakapan bergerak cepat, dan identitas sering dibangun lewat apa yang dipakai, dicoba, atau dibagikan. Saat ada produk yang ramai dibahas, tidak ikut membeli bisa terasa seperti tertinggal secara sosial.
Kondisi anggaran yang terbatas pun tidak selalu melindungi. Justru promo kecil, cicilan, atau gratis ongkir sering terasa seperti pembenaran. Barang jadi tampak “murah”, padahal total pengeluaran bulanan membesar.
Pengguna dengan kebiasaan scroll tanpa henti
Scroll panjang membuat seseorang berkali-kali bertemu pemicu yang sama. Lihat orang unboxing, lanjut lihat review, lalu lihat toko resmi, lalu lihat live dengan diskon tambahan. Keinginan belanja tidak muncul sekali, tetapi diulang terus.
Algoritma memperkuat pola itu. Jika seseorang pernah mencari satu produk, platform akan membalas dengan rekomendasi serupa. Akhirnya, barang itu terus hadir sampai terasa penting.
Di Indonesia, kebiasaan cek ponsel saat jam istirahat dan malam hari membuat paparan ini nyaris tanpa jeda. Bukan kebetulan jika waktu belanja banyak terjadi di sela makan siang dan selepas kerja. Pada jam seperti itu, energi mental menurun, sementara keputusan cepat jadi lebih mungkin.
Dampak FoMO pada konsumsi, keuangan, dan rasa aman
Dampak FoMO tidak berhenti di keranjang belanja. Ia masuk ke pola konsumsi, pengelolaan uang, dan rasa aman saat bertransaksi.
Kategori yang tumbuh cepat memberi gambaran soal frekuensi belanja. SIRCLO 2025 mencatat transaksi online FMCG tumbuh 90,45% pada 2024, Beauty & Personal Care 62,07%, dan Mother & Baby 35,52%. Kategori seperti ini terlihat ringan per transaksi, tapi mudah dibeli berulang. Akumulasinya sering tidak terasa sampai tagihan datang.
FoMO juga membuat orang menganggap pembelian kecil sebagai hal sepele. Satu serum, satu camilan, satu aksesori meja, semuanya tampak aman. Masalahnya ada pada pengulangan, bukan pada satu transaksi.
Belanja cepat sering berujung penyesalan
Pola penyesalannya hampir selalu mirip. Orang membeli karena takut kehabisan atau takut telat ikut tren. Setelah barang datang, baru muncul evaluasi yang semestinya dilakukan sebelum checkout.
Sering kali barang itu tidak terlalu dipakai. Ada duplikasi fungsi, kualitas biasa saja, atau efeknya tidak sesuai ekspektasi. Kepuasan awal datang cepat, tapi cepat juga turun.
Beberapa penelitian di Indonesia juga mengaitkan FoMO dan impulse buying dengan penyesalan pasca pembelian. Ini masuk akal. Keputusan yang dibangun oleh urgensi jarang memberi kepuasan jangka panjang, karena yang dicari sejak awal bukan kebutuhan, melainkan rasa lega sesaat.
FoMO bisa membuat orang lebih rentan tertipu
FoMO mempersingkat waktu verifikasi. Orang yang terburu-buru cenderung kurang teliti memeriksa toko, harga, deskripsi, dan pola transaksi. Fokusnya bergeser ke satu hal, “amankan dulu sebelum habis.”
Di situ risiko penipuan naik. Kompas.com pernah menyoroti bahwa 4 dari 5 orang berisiko terkena penipuan belanja online saat terdorong FoMO. Angka itu menunjukkan masalah ini bukan pinggiran.
Perubahan metode pembayaran juga punya sisi lain. COD masih dipakai pada 37% transaksi, tetapi banyak konsumen sudah beralih ke pembayaran digital yang lebih praktis. Gesekan saat bayar makin kecil. Nyaman, iya. Tapi jeda untuk memikirkan ulang juga ikut mengecil.
Karena itu, FoMO bukan cuma soal belanja boros. Ia juga soal turunnya kewaspadaan. Saat emosi mengambil alih, kualitas keputusan ikut turun.







Comments